Thursday, July 12, 2007

Pengembangan Rumah, Perlukah...???

Rumah merupakan kebutuhan pokok manusia, sudah jelas berfungsi sebagai tempat berlindung atau berteduh dari teriknya matahari dan derasnya hujan serta tempat berkumpulnya sebuah keluarga.
Oleh karena itu kondisi rumah yang layak untuk sebuah keluarga haruslah diperhatikan agar anggota keluarga akan terjaslin suatu komunikasi yang baik.
Umumnya rumah yang dibangun disetiap perumahan memiliki tipe dan bentuk yang sama dalam satu lingkungan komplek, luas tanah pun sudah ditentukan sedemikian luasnya. Berbagai jenis dan tipe yang umum terdapt diperumahan mulai dari tipe 21/60, 36/60, 36/72, 45/96, 45/120 dan masih banyak lagi. Sebagai misal, tipe rumah 36/60 berarti luas lahan yang tersisa dalah 60 - 36 = 24M2, itu pun harus dikurangi dengan batas sepadan jalan. Sudah jelas dengan lahan terbatas tersebut si pemilik bingung untuk mengembangkan rumah tersebut.

Nah disini pentingnya perencanaan, walaupun sisa lahan yang kita miliki minimal, dengan melakukan perencanaan yang matang maka lahan minimal tersebut akan menjadi maksiman secara fungsi dan estetika. Kenapa tidak maksimal secara fungsi saja?, mmm klo memaksimalkan fungsi sudah jelas kita setiap orang dapat melakukan pekerjaan tersebut, hanya menganalisa kebutuhan ruang, maka fungsi pun terpenuhi...
Selain fungsi tentu saja estetika juga harus diperhatikan, karena ini menyangkut kenyamanan si pemilik rumah....

Kenapa Rumah Perlu dikembangkan...????
Oke, kita lihat dirumah kita sendiri, tempat tinggal kita atau tentangga kita. Umumnya sebuah keluarga memiliki anggota minimal Ayah, Ibu dan 2 anak, mungkin bisa lebih dari 2 anak, betul...Nah semua anggota keluarga tersebut membutuhkan tempat yang nyaman dan menyenangkan serta layak. Coba kita pikir, mungkin bagi keluarga yang baru memiliki anak usia balita, atau mungkin keluarga yang baru menikah enjoy saja dengan rumah yang memiliki 1 kamar tidur, 1 KM, 1 ruang serbaguna (ruang tamu+ruang makan+ruang keluarga). Bagaimana jika kelak anak bertambah usia dan menjadi dewasa baik secara usia maupun secara fisik, tentu mereka harus memiliki ruang privasi mereka sendiri terlebih lagi anak perempuan yang memiliki privasi yang lebih dari anak laki-laki....
Nah dengan kebutuhan tersebut, maka pengembangan rumah sangat diperlukan...tapi ingat bukan hanya penambahan ruangan saja, akan tetapi perhatikan faktor-faktor berikut ini :
1. Faktor Kesehatan, ditinjau dari kesehatan, cahaya matahari diusahakan harus masuk ke semua ruangan yang ada. selain faktor kesehatan hal ini juga berpengaruh terhadap efeisiensi pemakaian energi listrik.
2. Penataan ruangan, mebel dan aksesoris ruangan lainnya harus disimpan dan diatur serapih mungkin sehinggan tidak menganggu aktifitas keseharian penghuni.
3. Estetika (keindahan), pada point ini berhubungan dengan warna, ukuran dan bentuk ruangan.
Dari ketiga faktor diatas, memerlukan analisa yang cukup tepat, sehingga tiga point tersebut tercapai...
Bagaimana mencapai tiga point tersebut, sudah jelas Anda memerlukan konsultasi kepada ahlinya, saat ini sudah banyak penyedia jasa untuk pekrejaan tersebut diatas, so tinggal Anda yang menentukan...

So, sudah tau kenapa kita perlu mengembangkan rumah kita..???
Jadikan rumah kita tempat istirahat dan berkumpul bersama keluarga dengan kenyamanan dan kemanan yang kita impikan....

Fauzi Affandi
www.fullcreativity.blogspot.com

Tuesday, July 10, 2007

Faktor Kali dalam Bisnis

Faktor Kali dalam Bisnis
Sumber : Roni Yuzirman on June 30th, 2007
Mungkin anda sering bertanya-tanya, mengapa si A dalam waktu singkat usahanya berkembang begitu pesat? Atau si B dalam waktu singkat punya cabang begitu banyak? Jawabannya adalah karena faktor kali (multiplier effect). Usaha yang lambat biasanya karena sistimnya masih menggunakan faktor penjumlah misalnya 2 + 2 = 4, 4 + 4 = 8, 16 + 16 = 32. Ini juga bisa maju, tapi agak lebih lambat. Tapi bila Anda punya usaha yang memiliki faktor kali akan jadi seperti ini: 2 x 2 = 4, 4 x 4 = 16, 16 x 16 = 256. Jauh lebih besar hasilnya.
Usaha apa contohnya yang memiliki faktor kali? Semua usaha punya faktor kali. Cuma jenisnya berbeda-beda. Misalnya usaha rumah makan, salah satu faktor kalinya adalah lokasi yang ramai. Lihat saja restoran McDonalds di Sarinah Thamrin menjadi 10 besar paling ramai di dunia karena faktor kalinya adalah lokasi yang strategis dan ramai. Usaha eceran faktor kalinya adalah lokasi yang ramai dan banyaknya jumlah cabang. Usaha grosir faktor kalinya adalah pelanggannya yang membeli dalam jumlah banyak dan berulang-ulang.
Hanya itu? Masih banyak lagi. Misalnya publikasi, iklan, promosi, tenaga sales. Berikut ini uraiannya.

Menggunakan PublikasiIngat dengan ayam bakar Wong Solo? Restoran ini “meledak” omsetnya gara-gara seorang seorang wartawan menulis berita tentang usaha ayam bakar yang saat itu masih di kaki lima di kota Medan dengan judul “Sarjana Menjual Ayam Bakar”. Jadi tulisan di koran itu telah menjadi faktor kali. Memang pemiliknya Puspo Wardoyo pintar sekali memanfaatkan publikasi seperti mengadakan Poligami Awards, membuat menu Jus Poligami. Contoh lain: jaringan bisnis MQ Corporation milik AA Gym dengan publikasi dari segi spiritual, The Body Shop dengan publikasi dari segi kepedulian lingkungan hidup, Moamar Emka dengan buku Jakarta Undercover, Dewi Lestari dengan buku Supernova.
Menggunakan Iklan atau PromosiBaru-baru ini saya melihat langsung toko roti baru namanya BreadTalk di Mal Taman Anggrek. Saya saksikan pembelinya rela antri sampai hampir sepuluh meter untuk membeli roti yang katanya lebih enak itu. Kenapa bisa begitu ramai sementara toko roti lain di tempat yang sama tidak seramai itu? Karena faktor kali dari iklan dan promosi di Metro TV dengan menggunakan para artis ternama. Iklan tersebut menggugah rasa ingin tahu penonton untuk mencobanya. Contoh lain: DRTV.
Menggunakan Tenaga Pemasaran/SalesAnda tahu jaringan toko kredit Columbia? Kebetulan saya sendiri kenal dengan pemiliknya, Bapak Leo Chandra. Katanya, tahun lalu omsetnya mencapai Rp. 1,2 trilyun. Apa kiatnya? Dia tidak menggunakan iklan atau membuka outlet di lokasi yang ramai dan strategis. Tapi dia menggunakan 20.000 tenaga sales di seluruh Indonesia. Toko-toko sepatu di PIK Pulo Gadung juga menerapkan hal serupa, yaitu dengan menggunakan tenaga pemasar lepas (freelance) yang dibekali dengan brosur dan katalog gambar produk. Jadi, para pembeli tinggal memilih melalui katalog tersebut. Contoh lain: perusahaan network marketing/MLM, kartu kredit Citibank, bahkan partai seperti Partai Keadilan Sejahtera juga menggunakan strategi pemasaran langsung (direct selling). Saat dalam Pemilu 1999 dengan 15.000 kader yang mentargetkan 1 orang menggaet 20 orang pemilih, partai ini berhasil mendapat 1.4 juta suara. Saat ini dengan sistim pendekatan yang sama telah terkumpul 400.000 kader. Berapa nanti perolehan suaranya di tahun 2004 bila 1 orang kader menggaet 20 pemilih?
Menggunakan Tokoh atau ModelBaterai ABC menguasai 90% lebih pangsa pasar baterai di Indonesia. Saat saya berkunjung ke pabriknya di Daan Mogot bulan Desember tahun lalu, Ibu Herlili Sumampouw, manajer periklanannya membuka rahasia bahwa salah satu faktor kalinya adalah dengan menggunakan orang-orang cebol dan petinju Evander Holyfield. Mereka menggunakan orang-orang cebol sejak tahun 70-an yang disuruh menari-nari di arena Pekan Raya Jakarta. Hasilnya, omset penjualan baterai ABC naik seperti roket, katanya. Begitu juga saat memperkenalkan Baterai ABC Alkaline, tadinya ABC tidak dikenal sebagai produsen baterai alkaline sebelum menggunakan model iklan petinju kelas berat Evander Holyfield. Seorang model atau tokoh memiliki banyak penggemar, inilah faktor kalinya.
Membuka Cabang Sebanyak MungkinUntuk usaha eceran/retail, inilah faktor kalinya. Alfa Mart adalah contohnya. Dalam waktu singkat bisa menyamai jumlah cabang Indomaret yang sudah lebih lama di bisnis ini. Dengan agresif mereka terus membuka cabang dengan cara waralaba yang lebih fleksibel daripada Indomaret. Caranya, bila si calon partner itu hanya punya lahan dan bangunan tanpa modal kerja, Alfamart siap mengisi barang. Faktor kali untuk usaha eceran tidak hanya itu, bisa juga dengan cara menitipkan barang di outlet-outlet.
Menjual Secara GrosirUntuk usaha grosir, faktor kalinya tidak perlu dengan membuka banyak toko. Tapi dengan mencari banyak pedagang yang membeli dalam jumlah banyak secara berulang-ulang. Ini bisa dilihat di toko-toko di Tanah Abang, Pasar Anyar Bogor atau Cipulir. Rata-rata mereka memiliki pelanggan tetap yang secara rutin berbelanja. Misalnya satu toko memiliki 20 pelanggan yang rata-rata berbelanja Rp. 2 juta per bulan, total per tahun menjadi Rp. 480 juta. Usaha grosir ini akan terus berkembang sesuai dengan perkembangan usaha para pedagang langganan tersebut dan bertambahnya pelanggan baru. Adakah para pelanggan yang memiliki lebih dari satu toko? Tentunya ada, bahkan ada yang memiliki 10 toko. Inilah faktor kalinya.
Menggunakan InternetJeff Bezos adalah salah orang terkaya di Amerika saat ini. Dia meraihnya dalam waktu kurang dari 10 tahun. Dia adalah pendiri situs belanja buku di internet Amazon.com yang menjual buku secara online kepada para pelanggan di seluruh dunia. Dalam waktu singkat Amazon telah mengalahkan toko buku terbesar di Amerika yang sudah berdiri puluhan tahun, Barnes and Noble. Saya pribadi juga telah menggunakan media ini sejak September tahun lalu. Hasilnya di luar dugaan. Dalam waktu 3 bulan pengunjung yang datang di website sudah hampir 1.000 orang dengan omset yang lumayan. Bahkan telah berhasil mendapatkan agen/distributor di beberapa daerah di Indonesia. Apa faktor kalinya? Karena saya berkawan dengan Mr. Tung Desem Waringin, seorang pembicara seminar yang telah berbicara di hadapan lebih dari 60.000 orang dan siaran talk show di radio Smart FM yang mempunyai jaringan di 7 kota di Indonesia. Di setiap kesempatan dia selalu menyebutkan alamat situs internet kami. Di samping itu, internet diakses oleh orang di seluruh dunia, tanpa batas wilayah dan waktu. Perkembangan bisnis di internet ini patut kita antisipasi. Peluangnya sangat, sangat, sangat besar.
Apakah faktor kali hanya untuk bisnis saja?Tidak. Penggunaan faktor kali tidak melulu untuk tujuan bisnis saja. Seorang dosen yang biasanya hanya bisa berbicara di depan mahasiswa bisa menggunakan media lain untuk meraih audiens yang lebih besar. Misalnya dengan menulis buku, mengadakan seminar, membuat kaset/CD, membuat situs internet, siaran di TV atau radio. Contohnya adalah Rhenald Kasali, Roy Sembel (dosen, ahli keuangan). Seorang atlit yang sebelumnya adalah atlit lokal bisa meningkatkan faktor kalinya dengan mengikuti pertandingan dengan skala nasional atau internasional. Seorang da’i seperti Aa Gym paling ahli memanfaatkan faktor kali ini. Dia membuat faktor kali melalui tabloid, radio, televisi, internet, buku, VCD dan lain-lain. Inul Daratista menjadi begitu fenomenal setelah tampil di televisi. Padahal sebelumnya dia hanya bernyanyi dari kampung ke kampung.
KesimpulanDari beberapa contoh di atas, intinya adalah bagaimana dalam meningkatkan usaha kita selalu mencari faktor kali. Sekali lagi FAKTOR KALI. Mudah-mudahan tulisan ini menjadi inspirasi bagi anda. Mohon maaf, bukan saya ingin menggurui, tapi ingin berbagi ilmu dan pengalaman yang tentu saja banyak kekurangannya. Mudah-mudahan tulisan ringan ini ada manfaatnya.